Oleh: Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzahallah
Mendidik
anak merupakan pekerjaan yang sulit, karena (dalam menghadapi) mereka
membutuhkan kesabaran dan kecerdikan (untuk mengambil hatinya).
Termasuk
di antaranya, ada anak yang butuh perlakuan lembut, ramah, tidak suka
dibentak-bentak dengan keras. Dan jika diperlakukan dengan cara sebaliknya,
niscaya ia akan membangkang. Ada pula anak yang perlu dikerasi, tapi tetap
tidak melebihi batas kewajaran. Apabila sampai berlebihan maka akan menyebabkan
anak sulit diatur dan tidak patuh terhadap nasehat kedua orang tuanya.
Kita
memohon kepada Allah agar mengkaruniakan kebaikan kepada kita dan menjaga kita
dalam (memikul) tanggung jawab yang besar sebagai orang tua. Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman:
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. “ (At-Tahrim: 6)
Dan
dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar rodhiyallohu anhuma, ia berkata:
“Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Kalian semua adalah
pemimpin, dan kalian semua akan ditanya tentang apa yang kalian pimpin, seorang
imam adalah pemimpin dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya,
seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia nanti akan ditanya
tentang yang dipimpinnya, seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya
dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang budak (pelayan)
adalah pemimpin tentang harta majikannya dan ia nanti akan ditanya tentang yang
dipimpinnya, ketahuilah karena kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua
akan ditanya nanti tentang yang dipimpinnya.”
Sehingga
harus ada upaya tolong menolong di antara suami istri dalam mendidik
anak-anaknya. Jika salah satu meremehkan kewajiban ini niscaya akan terjadi
kekurangan pada sisi yang merupakan tanggung jawabnya kecuali Allah menghendaki
yang lain. Kemudian dalam mendidik anak harus sesuai dengan tingkat dan
pemahamannya, berikut ini ada satu contoh di antaranya:
2. Jika
engkau memberinya sepotong roti atau lainnya berikanlah melalui tangan
kanannya.
3. Jika
makanan masih panas janganlah engkau meniupnya supaya dingin, karena Nabi
shollallohu alaihi wa sallam melarang bernafas dalam tempat makanan/ minuman. Seandainya
si anak melihatnya, niscaya dengan cepat ia akan menirunya.
Demikian
juga dalam perkara lainnya, dan semua ini merupakan bukti kebenaran sabda Nabi
shollallohu alaihi wa sallam: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah,
kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Dan
dalam Shahih Muslim dari hadits Iyadh bin Himar, ia berkata: “Rasulullah
shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
(dalam hadits qudsi):
“Sesungguhnya Aku menciptakan
hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus bertauhid, kemudian para setan menyeret
mereka (untuk sesat).“
4.
Jika anak itu umurnya kurang lebih satu setengah tahun, bila ingin minum atau
makan, bimbinglah dia untuk mengucapkan “bismillah”.
Setelah itu dia akan terbiasa dengan perbuatan tersebut dan dengan sendirinya
akan mengucapkan “bismillah”.
5.
Apabila engkau dapati dia sudah bisa mengerti rukun-rukun Islam dan Iman, maka
ajarilah dia. Dan aku tidak membatasi pengajaran dengan ukuran umur karena
kefasihan anak dan kecerdasannya berbeda-beda.
Mengenai
rukun Islam terdapat dalam hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma (yang masyhur
adalah Ibnu Umar -ed), ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam
bersabda:
“Islam dibangun di atas lima perkara
bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhamad
adalah utusan Allah, menegakkan shalat. mengeluarkan zakat, berhaji ke
Baitullah (Mekkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Muttafaqun
‘alaih.
Adapun
Rukun Iman, (sebagaimana) diriwayatkan oleh Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, ia
berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Iman itu ialah kamu beriman kepada
Allah. Malaikat, Kitab, Rasul-Nya dan beriman kepada Hari Kebangkitan.”
Muttafaqun ‘alaih.
Dan
Muslim telah menwayatkannya sendirian dari hadits Umar bin Al-Khaththab.
Sedangkan
Rukun Ihsan ialah:
“Kamu beribadah kepada Allah
seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah
bahwa Allah melihatmu.”
Telah
berlalu takhrijnya dalam hadits sebelumnya.
6.
Ajarilah anak tersebut tata cara berwudhu.
7.
Apabila ia makan dari sebuah bejana maka katakan kepadanya hendaklah dia
memakan apa yang lebih dekat kepadanya.
Di
dalam Shahihain dari hadits Umar bin Abi Salamah ia berkata:
“Aku
pernah makan sedangkan tanganku lari kesana kemari di dalam talam/tempat makan
lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai anak muda
bacalah basmalah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada
di dekatmu.”
8.
Biasakanlah dia kepada kebaikan, apabila umurnya telah mencapai tujuh tahun
latihlah dia untuk melaksanakan shalat.
Telah
berkata Abu Dawud rohimahulloh (1/495): “Telah bercerita kepada kami Muammal
bin Hisyam yaitu Al-Yasykuri: “Telah bercerita kepada kami Ismail, ia berkata
dari Sawwar Abu Hamzah telah berkata Abu Dawud yaitu Sawwar bin Dawud Abu
Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya,
ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat
ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukul mereka jika menolak ketika umur
sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur di antara mereka.”
Dan
hadits ini sanadnya hasan.
Muammal
bin Hisyam adalah perawi yang tsiqah, sedangkan Ismail dia adalah Ibnu
‘Ulaiyah, seorang yang masyhur (telah dikenal) dan Sawwaar adalah perawi yang
shaduq, dia punya beberapa kesamaran sebagaimana dalam At-Taqrib. Dan haditsnya
bisa dijadikan hujjah selama tidak termasuk kesalahannya sedang perawi-perawi
lainnya dikenal. Dan hadits ini punya jalan lain dari hadits Saburah dalam
Sunan Abu Dawud no. 494.
9.
Memisahkan tempat tidur di antara anak-anak jika telah berumur sepuluh tahun
sebagaimana hadits di atas.
(Bersambung
insyaAllah…)
***
Disalin
dari terjemahan kitab Nashihati
lin Nisaa’, oleh Syaikhoh Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzohalloh (putri Syaikh Muqbil
al-Wadi’i rohimahullah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar