10.
Latihlah anak untuk berpuasa jika sudah mampu, dengan tujuan apabila telah
menginjak dewasa dia sudah terlatih untuk melakukannya.
Dan
Imam Bukhari telah membuat judul bab dalam Shahih-nya(4/200) bab, Puasanya
Anak-anak: “Telah bercerita kepada kami Musaddad, ia berkata:
“Telah bercerita kepada kami Bisyr bin Al-Mufadhdhal dari Khalid bin Dzakwan
dari Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata: “Nabi shollallohu alaihi wa
sallam mengutus (seseorang) pada pagi hari (di hari) Asyura ke kampung Anshar
(untuk mengumumkan), barangsiapa pagi ini sudah makan maka hendaknya
menyempurnakan sisa harinya (untuk berpuasa), dan barangsiapa yang pagi ini
belum makan maka hendaknya ia berpuasa.” Ia (Ar-Rubayyi’) berkata: “Maka kami
pun berpuasa dan anak-anak kami latih untuk berpuasa. Kami buatkan mainan dari
bulu untuk mereka, jika salah satu dari mereka menangis minta makan, kami beri
dia mainan itu sampai datang waktu berbuka.”
11.
Ajarilah anak anda aqidah yang benar.
Dan
katakanlah kepadanya seperti yang dikatakan Nabi shollallohu alaihi wa sallam
kepada Abdullah bin Abbas rodhiyallohu anhuma: “Sesungguhnya aku akan
mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu,
jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di depanmu. Jika engkau
meminta, maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau minta tolong maka minta
tolonglah kepada Allah. Ketahuilah seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat
kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kepadamu
kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Seandainya mereka
bersatu untuk mendatangkan kemudharatan kepadamu dengan sesuatu, maka mereka
tidak akan dapat memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah
tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran
catatan.”
12. Berilah wasiat kepada anak anda seperti Luqman memberi wasiat kepada anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah), sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar. Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan
dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah
kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan
ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah
kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman
berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji
sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah
akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan
yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabar
terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal
yang diwajibkan (oleh Allah). Dan jangan kamu memalingkan mukamu dari manusia
(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan
diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 13-19)
13.
Ajarilah dia jika hendak masuk untuk meminta izin lebih dahulu. Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman:
“Hai
orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu
miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada
kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat Shubuh, ketika kamu
menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya. (Itulah)
tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain
dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan)
kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nuur: 58)
14.
Berilahukan kepadanya tentang perkara-perkara yang dilarang agar menjauhinya.
Dalam
Shahihain dari hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, ia berkata: “Al-Hasan bin
Ali rodhiyallohu anhuma mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah (zakat)
kemudian memasukkannya ke mulutnya. Lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa
sallam bersabda:
“Kikh, kikh, buanglah kurma itu,
tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak makan makanan shadagah (zakat).”
15.
Jelaskanlah padanya makna ayat atau hadits yang engkau bacakan kepadanya.
16.
Ikatlah hatinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Sebagian
anak hatinya terikat dengan dunia dan tontonan-tontonan sehingga hatinya penuh
dengan khayalan. Hal ini mengakibatkan dia takut pada bayangannya sendiri.
(Bersambung
ke bagian 3 إنشاء الله…)
***
Disalin
dari terjemahan kitab Nashihati
lin Nisaa’, oleh Syaikhoh Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzahallah (putri Syaikh Muqbil
al-Wadi’i rohimahullah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar