Namun
demikianlah keadaannya..
"Srigala tak mau berebut...Hanya anjing saja yang berebut bangkai, lihatlah kehidupan anjing! Mereka nampak bersahabat, akur, ramah berteman. Namun tatkala dihadapkan dengan seonggok bangkai ia menjadi musuh, siapa yang kuat ia dapat, siapa yang menang ia kenyang".
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika melewati pasar sementara orang-orang berada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟
فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ:
أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا
فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ
لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Siapa di antara
kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu
dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah
apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing
ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih
hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah
menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi
Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya
bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)
