18. Jangan biarkan anak-anak anda bergaul dengan anak-anak yang tidak
terdidik/ bodoh, karena anakmu akan meniru omongan dan perbuatan mereka yang
jelek sehingga akan meruntuhkan apa yang sudah diajarkan.
Seorang penyair mengatakan:
Seorang anak tentu akan menghafal apa yang diberikan kepadanya
_____ Dan
tidak akan lupa
Karena Hatinya seperti permata yang bening
_____ Maka
ukirlah di atas hatinya berita yang engkau kehendaki
Maka kelak ia akan mengungkapkan
_____ Dari
hafalannya yang sempurna
Seorang anak pikirannya kosong dan siap menerima segala sesuatu,
sebagaimana dikatakan (dalam peribahasa):
“Mengukir (belajar) di masa kecil seperti mengukir di atas
batu.”
19. Jangan biarkan anak anda keluar rumah ketika sore hari (maghrib), karena sesungguhnya para setan berkeliaran pada saat itu, dan mungkin bisa membahayakan anakmu.
Imam Bukhari rohimahulloh berkata: “Telah bercerita kepada kami
Ishaq, ia berkata: “telah mengabarkan kepada kami Rauh bin Ubadah, ia berkata:
“Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata: “Telah mengabarkan
kepadaku Atha’ ia berkata bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah
radhiyallahu 'anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Jika hari mulai malam atau kalian masuk pada waktu sore maka
tahanlah anak-anak kecil kalian karena para setan sedang berkeliaran saat itu.
Lalu jika telah lewat satu saat dari malam, bebaskan mereka dan kuncilah
pintu-pintu serta sebutlah nama Allah karena sesungguhnya setan tidak akan
membuka pintu yang terkunci.”
Dan dikeluarkan juga oleh Muslim.
20. Biarkan si anak sekali waktu untuk menyenangkan dirinya. Karena
jika anak itu selalu dilarang bermain, dikhawatirkan akan membuat kepintarannya
hilang dan membuatnya jemu atau bosan (karena selalu dilarang).
Maka jika kedua orang tua menginginkan kemuliaan anaknya,
hendaknya keduanya bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya dengan tarbiyah
Islamiyah dengan
mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Termasuk sebab tingginya derajat kedua orang tua di akhirat jika
keduanya muslim, adalah do’a anaknya yang sholeh untuk mereka. Sebagaimana
riwayat yang shahih dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Jika seorang manusia lelah mati maka terputuslah amalannya
kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh
yang mendo’akannya.”
Dan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang
sholeh di surga, kemudian ia berkata: “Wahai Rabbku dari mana ini?” Maka Allah
berfirman: “Dengan sebab istighfar dari anakmu.” Dan hadits ini terdapat dalam
Ash-Shahihul Musnad.
Dan jika kedua orang tua itu adalah orang yang sholeh dan
anak-anaknya sholeh, tapi si anak belum mencapai derajat seperti derajat kedua
orang tuanya, maka Allah akan mengangkat derajat anak menyamai kedudukan ayah
mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka,
dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap
manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thuur: 21)
Dan seorang anak kadang menjadi nikmat bagi kedua orang tuanya
seperti mentaati keduanya dan berbuat baik kepada keduanya. Inilah yang diminta
oleh orang-orang yang sholeh kepada Allah agar mengkaruniakan anak yang
sholeh kepada mereka. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang berkata: ” Ya Rabb kami. Anugerahkanlah
kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)
21.
Bersemangatlah untuk mendudukkan anak anda pada orang-orang sholeh.
Maka inilah ibu yang sholehah, Ummu Sulaim, dia membawa anaknya
Anas kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Anas adalah pelayanmu wahai
Rasulullah, maka do’akanlah ia.” Kemudian Rasulullah shollallohu
alaihi wa sallam berdo’a: “Ya
Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah ia di dalamnya.”
Dan Ummu Hudzaifah bertanya kepada anaknya yaitu Hudzaifah bin
Al-Yaman, katanya: “Kapan
engkau (terakhir kali) bertemu dengan Nabi shollallohu alaihi wa sallam?”
Maka aku menjawab: “Aku
tidak jumpa dengan beliau sejak (saat) itu.” Sehingga ibuku
mencelaku, maka aku berkata kepadanya: “Biarkan
aku menemui Nabi shollallohu alaihi wa sallam di saat aku shalat Maghrib bersama
beliau dan memintanya untuk memintakan ampun bagiku dan bagimu.” Kemudian aku
shalat Maghrib bersamanya sampai shalat Isya. dan setelah selesai beliau pergi
dan aku mengikutinya. Ternyata beliau mendengar suaraku, lalu berkata: “Siapa itu? Apakah Hudzaifah?”
Aku jawab: “Benar.”
Beliau berkata: “Apa
keperluanmu? semoga Allah mengampunimu dan ibumu.” Beliau
(kemudian) bersabda: “Sesungguhnya
malaikat ini tidak pernah turun ke bumi sebelum malam ini. Dia
meminta izin kepada Rabbnya untuk memberi salam kepadaku dan memberi khabar
gembira kepadaku, bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni surga.”
Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan disebutkan oleh Ayahanda di dalam Ash-Shahihul
Musnad (1/214).
Selanjutnya kewajiban kedua orang tua untuk mencurahkan segala
daya upaya dalam mendidik anak-anaknya. Dan hidayah itu di tangan Allah
sedangkan manusia tidak mampu memberi hidayah pada dirinya sendiri apalagi
memberi hidayah pada orang lain. Sebagai contoh nyata yaitu Nabi Nuh
alaihissalam seorang Nabi di antara Nabi-Nabi Allah, tidak mampu memberi
hidayah kepada anaknya. Padahal ia berharap anaknya ikut bersama mereka dan
jangan ikut bersama orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa
ta’ala:
“Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang
jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu
berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata:
Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang
Maha Penyayang. “Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah
anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud: 42-43)
Dan inilah Ibrahim alaihissalam memberi nasehat kepada ayahnya
untuk meninggalkan kesyirikan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa surat,
tapi ayahnya tidak mau mendengarkan nasehat anaknya bahkan mengatakan:
“Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan
tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Maryam: 46)
Dan begitu juga Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
mengharapkan pamannya untuk masuk Islam tapi ia enggan dan mati di atas
kesyirikan. Contoh-contoh lain masih banyak, dan ini terjadi sebagian besar
generasi salaf.
Syu’bah bin Al-Hajjaj mengatakan: “Lahir seorang anakku dan aku
beri nama Sa’ad tapi dia tidak (membuatku) bahagia ataupun selamat. Dan (suatu
hari) ia pernah mengatakan kepada anaknya: “Pergilah kepada Hisyam Ad-Dustuwai
(untuk belajar).” Tetapi anaknya menjawab: “Aku hendak melepas burung merpati.”
Lihat Mizanul I’tidal (2/122).
Ismail bin Ibrahim bin Miqsam, seorang lelaki sholeh, di antara
anak-anaknya ialah Ibrahim, seorang Jahmi tulen (yang berpamahaman Jahmiyah,
pent), dan berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Maka hidayah itu memang milik Allah akan tetapi harus kita
menjalankan sebab-sebabnya. Jika Allah menghendaki anak kita baik, maka ia akan
mau mendengar nasehat-nasehat dan jika menghendaki selain itu, maka dia akan
terus dengan apa yang diyakininya.
Seorang penyair mengatakan:
Jika memang tabi’atnya adalah tabi’at yang jelek
_____ Maka
adab tidak akan bermanfaat
Dan tidak pula seorang yang beradab
Terkadang anak menjadi siksaan bagi kedua orang tuanya, karena
itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara
istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)
Dan makna kata: من (di
antara) di sini adalah untuk menunjukkan sebagian. Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan
anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat
demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Dan anak juga akan sengsara apabila kedua orang tuanya
tergelincir dalam masalah agama dan sibuk dengan urusan masing-masing sehingga
tidak memperhatikan urusan agama. Dan di antara contohnya adalah:
1. Seorang bapak yang muslim ketika anaknya
sakit, maka dia berusaha mencari obat untuk anaknya sampai ke ahli nujum dan
dukun. Dan perbuatan ini adalah salah satu bentuk amalan kekufuran. Yang
demikian itu karena ahli nujum/ dukun mengaku mengetahui yang ghaib, sedang
ilmu ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu
hal-hal yang ghaib.” (Ali
Imran: 179)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)
Maka dengan tindakan ini si bapak menjadi kufur karena sebab
anaknya.
2. Di antara manusia ada yang kurang dalam
menjalankan kewajiban karena mencari rizki untuk anaknya dan untuk menyenangkan
mereka.
3. Di antara mereka juga ada yang memasukkan
TV ke dalam rumahnya dengan tujuan untuk menyenangkan anaknya.
Sedangkan televisi diharamkan karena ia menyimpan banyak
kerusakan, di antaranya gambar, alat permainan, musik, perempuan melihat lelaki
dan sebaliknya dan mengikuti pemikiran musuh-musuh Islam serta hal-hal lainnya.
Dan anak ini akan menjadi musuh bagi ayahnya dan tidak bermanfaat pada hari
kiamat bahkan akan lari darinya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman:
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan
bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu
mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”(‘Abasa: 34-37)
Maka barangsiapa yang diberi musibah dengan anak yang durhaka
hendaknya ia berdo’a kepada Rabbnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir:
60)
Hendaknya kasih sayang orang tua harus dalam batasan syari’at
dan tidak boleh melakukan perbuatan yang haram demi anak.
Disalin dari terjemahan kitab Nashihati lin Nisaa’, oleh
Syaikhoh Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzohalloh (putri Syaikh Muqbil
al-Wadi’i rohimahulloh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar